ACARA III
|
KERUSAKAN VITAMIN SELAMA PENGOLAHAN
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Vitamin adalah senyawa
mikronutrien yang diperluakan oleh tubuh dalam jumlah kecil. Vitamin merupakan
kovaktor dalam reaksi kimia yang dikatalis oleh enzim. Vitamin dapat larut
dalam air dan lemak. Vitamin yang dapat larut dalam air adalah vitamin A, D, E
dan K dan vitamin yang larut dalam air adalah vitamin B dan C. Vitamin ini
dalam tubuh berfungsi sebagai pengatur metabolism, pengatur penglihatan, sistem
susunan saraf, sistem imun, mengatur pertumbuhan tulang dan jaringan serta
berperan dalam pembekuan darah.
Vitamin
bersumber dari bahan pangan seperti sayuran dan buah-buahan segar. Ada beberapa
bahan pangan yang harus melalui proses pengolahan terlebih dahulu sebelum dapat
dikonsumsi. Selama proses pengolahan, vitamin dalam bahan mengalami kerusakan
dan kehilangan, comtohnya akibat ekstraksi, reaksi kimia dan perlakuan termal
atau panas. Salah satu contohnya adalah viatamin C (asam askorbat) yang mudah
terlarut didalam air dan rentan terhadap perlakuan panas.
Faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi kerusakan pada vitamin meliputi suhu, pH, oksigen,
katalis logam, enzim dan sinar. Setiap vitamin mempunyai kestabilan atau
stabilitas yang berlainan terhadap berbagai kondisi pengolahan. Prosedur
pengolahan yang tepat dapat mempertahankan kandungan vitamin didalam suatu
bahan pangan. Oleh karena itu perlu dilakukan praktikum ini untuk mengetahui
pengaruh proses pengolahan terhadap kerusakan vitamin.
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini
adalah mempelajari pengaruh pengolahan terhadap kadar vitamin C buah-buahan.
TINJAUAN PUSTAKA
Vitamin adalah
sekelompok senyawa organik berbobot molekul kecil yang memiliki fungsi vital
dalam metabolisme organisme. Dipandang dari sisi enzimologi (ilmu tentang
enzim), vitamin adalah kofaktor dalam reaksi kimia yang dikatalisasi oleh
enzim. Istilah “Vitamin” sebenarnya sudah tidak tepat untuk dipakai tetapi
akhirnya dipertahankan dalam konteks ilmu kesehatan dan gizi. Nama ini berasal
dari gabungan kata vita yang artinya hidup dan amina (amine) yang mengacu pada
suatu gugus organik yang memiliki atom nitrogen, karena pada awalnya dianggap
demikian. Kelak diketahui bahwa banyak vitamin sama sekali tidak memiliki atom
N (Sirajuddin, 2009).
Vitamin dapat dibagi
dalam dua golongan yaitu golongan pertama yang disebut dengan prakoenzim dan
bersifat larut dalam air, tidak disimpan oleh tubuh, tidak beracun dan
diekskresi dalam urin. Yang termasuk dalam golongan ini adalah tiamin, riboflavin,
asam nikotinat, piridoksin, asam kolat, biotin, asam pentatonat, vitamin B dan
viamin C. Golongan kedua yang larut dalam lemak disebut alosterin dan dapat
disimpan dalam tubuh. Apabila vitamin ini terlalu banyak dimakan, akan
tersimpan dalam tubuh dan memberikan gejala penyakit tertentu yang disebut
hipervitaminosis (Bram, 2011).
Asam L-aksorbat
merupakan nama umum untuk vitamin C, vitamin C merujuk pada semua senyawa yang
menunjukan sebagian atau keseluruhan aktivitas biologis asam L-aksorbat. Asam
L-aksorbat merupakan serbuk kristal berwarna putih sampai putih agak kuning
dengan kelarutan dalam ai sangat tinggi (30 gr/100 ml) pada suhu kamar. Kristal
asam L-aksorbat sangat stabil dengan adanya oksigen jika aktivitas tetap
rendah. Adanya katalis logam meningkatkan kecepatan degaradasi, dibandingkan
dengan oksidasi yang tidak dikatalis (Rohman, 2011).
Sumber vitamin C
sebagian besar berasal dari sayuran dan buah-buahan, terutama buah yang segar.
Widya Karya Pangan Nasional NAS-LIPI (1978) menyarankan konsumsi vitamin C
perhari untuk anak dan orang dewasa Indonesia antara 20-30 mg, sedang untuk ibu
mengandung dan menyusui perlu ditambah 20 mg. Kekurangan vitamin C akan
menyebabkan sariawan atau skorbut. Gejala penyakit korbut ialah terjadinya
pelembekan tenunan kolagen, infeksi dan demam. Pada orag dewasa skorbut terjadi
setelah beberapa bulan menderita kekurangan vitamin C. Akibat yang peran dari
keadaan ini ialah gizi menjadi menjadi goyang dan dapat kepa (Winarno, 2008).
Tomat merupakan salah
satu kebutuhan yang sangat penting bagi manusia. Tomat memiliki komposisi zat
yang cukup lengkap dan baik. Vitamin-vitamin yang terkandung pada tomat
diperlukan tubuh untuk pertumbuhan dan kesehatan. Vitamin C dalam buah tomat
sebesar 40 mg. Vitamin C berguna untuk mencegah sariawan, memelihara kesehatan
gizi dan gusi, serta melindungi diri dari penyakit lain yang disebabkan oleh
kekurangan vitamin C (Handrian, dkk, 2013).
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Waktu dan
Tempat Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada hari
Jumat, 8 Mei 2015 di Laboratorium Kimia dan Biokimia Pangan Fakultas Teknologi
Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram.
Alat
dan Bahan Praktikum
a.
Alat-alat
Praktikum
Adapun alat yang digunakan
dalam praktikum ini adalah timbangan analitik, buret, labu ukur, kompor, pisau,
sutil, talenan, sendok, piring, corong, kertas saring dan Erlenmeyer.
b.
Bahan-bahan
Praktikum
Adapun bahan yang digunakan
dalam praktikum ini adalah tomat mentah, tomat matang, tomat lewat matang, aquades, amilum, larutan iodin 0.01 N, bawang
pytih, bawang merah, garam dan gula.
Prosedur
Kerja
a. Pembuatan Saus Tomat
Disiapkan alat dan bahan praktikum
|
![]() |
Ditimabang tomat dengan tingkat kematangan untuk
pembuatan saus tomat
|
![]() |
![]() |
|
Dimasukkan tomat kedalam air
mendidih selama 30 detik kemudian diangkat
|
![]() |
Dikupas kulit tomat dan
dihilangkan bijinya
|
![]() |
Dibelender daging buah tomat,
bwang putih, bawang merah, garam dan gula pasir sampai halus
|
![]() |
Dipanaskan bubur tomat diatas
wajan tanpa minyak sampai mengental
|
![]() |
Dipindahkan kedalam wadah
|
b. Penurunan
Kadar Vitamin C
Ditimbang saus tomat sebanyak 10 gram
|
![]() |
![]() |
|
![]() |
|
Dipipet 25 ml dan dimasukkan kedalam Erlenmeyer 125 ml
|
![]() |
Ditambahkan kurang lebih 1 ml amilum
|
![]() |
Ditetesi dengan larutan iodin 0.01 N
|
HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
Hasil
Pengamatan
Tabel 3.1.
Hasil Pengamatan
No
|
Perlakuan
|
Kadar Vitamin C
|
1
|
Tomat Mentah
|
105.6 mg/100 gr bahan
|
2
|
Tomat Matang
|
91.52 mg/100 gr bahan
|
3
|
Tomat Lewat Matang
|
88.00 mg/100 gr bahan
|
Hasil Perhitungan
1.
Tomat
Mentah
Diketahui: W = 10 gram
FP = 4
T =3 ml
Kadar Vitamin C = 

=

=105.6
mg/100 gr bahan
2.
Tomat
Matang
Diketahui: W = 10 gram
FP = 4
T =2.6 ml
Kadar Vitamin C = 

=

= 91.52 mg/100 gr bahan
3.
Tomat
Lewat Matang
Diketahui: W = 10 gram
FP = 4
T =2.5 ml
Kadar Vitamin C = 

=

= 88.00 mg/100 gr bahan
PEMBAHASAN
Asam askorbat (vitamin C) adalah
turunan heksosa yang diklasifikasikan sebagai karbohidrat yang erat kaitannya
dengan monosakarida. Vitamin C dapat disintesis dari D-glukosa dan D-galaktosa
dalam tumbuh-tumbuhan dan sebagian besar hewan. Vitamin C terdapat dalam dua
bentuk di alam, yaitu L-asam askorbat (bentuk tereduksi) dan L-asam dehidro
(bentuk teroksidasi). Oksidasi bolak-balik L-asam askorbat menjadi L-asam
dehidro askorbat terjadi apabila bersentuhan dengan tembaga, panas atau alkali
(Alchiender, 2003). Buah Tomat (Lycopercium esculentum Mill)
trmasuk sayuran buah yang banyak disukai. Kualitas tomat dapat ditinjau dari
segi rasa manis, asam, kekenyalan dan jumlah air buah. Tomat memilki komposisi
zat yang cukup lengkap dan baik yang menonjol dari komposisinya adalah vitamin
C. komposisi vitamin C pada buah tomat 100 gr adalah 40 mg. vitamin C dalam
buah tomat memilki fungsi untuk tubuh yaitu untuk pertumbuhan dan kesehatan.
Selain vitamin C-nya yang tinggi. Buah tomat juga mengandung senyawa lain seperti
likopen, serat, fosfor kalium dan beta karoten (Handrian, dkk, 2013). Tomat
digolongkan sebagai sumber vitamin C yang sangat baik karena 100 gr tomat
memenuhi 20% atau lebih kebutuhan vitamin.
Praktikum kali ini dilakukan
pengujian kerusakan vitamin selama pengolahan. Sampel yang digunakan adalah
tomat yang memiliki kadar vitamin C cukup tinggi dalam komposisi zatnya. Tomat
yang digunakan adalah tomat mentah, tomat matang dan tomat lewat matang.
Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan dengan menggunakan sampel tomat
mentah didapatkan hasil bahwa kadar vitamin C pada tomat setelah diberi
perlakuan pemotongan, penambahan komponen lain seperti bawang dan gula, dan
terakhir dimasak sebesar 105.6 mg/100 gr bahan. Pada sampel tomat matang,
didapatkan hasil kadar vitamin C sebesar 91.52 mg/100 gr baha dan untuk sampel
tomat lewat matang, kadar vitamin C-nya sebesar 88 mg/100 gr bahan. Pemerintah melalui Pusat Standarisasi dan
Akreditasi departemen Pertanian telah
menetapkan standar mutu buah tomat dengan nomor SNI 01-3162-1992 untuk standar
mutu buah segar, SNI 01-4217-1996 untuk standar mutu tomat olahan dan SNI 01-3546-2004 untuk syarat mutu saus tomat.
Kadar vitamin C pada saus tomat yang diujikan dipengaruhi oleh proses
pengolahan pada buah tomat hingga
menjadi saus tomat. Vitamin yang terdapat dalam buah tomat mengalami kerusakan selama proses pengolahan. Prinsip pembuatan saus
tomat adalah penghancuran buah tomat, penyaringan untuk memisahkan daging dari
kulit bijinya dan pemanasan sampai suhu tertentu. Menurunnya kadar vitamin C
pada tomat setelah pemanasan disebabkan karena vitamin C teroksidasi menjadi
asam de hidroaskorbat. Dengan semakin naiknya suhu, maka proses oksidasi
terhadap viatamin C semakin cepat.
Berdasarkan Wenny Irawati dkk (2007), vitamin C dalam buah tomat akan menurun
darstis setelah dipanaskan. Hok dkk.,(2007) juga mengatakan bahwa semakin
tinggi suhu pemanasan dengan waktu yang sama didapatkan kadar vitamin C semakin
banyak yang terdegradasi oleh karena panas. Berdasarkan hasil pengamatan dan
perhitungan pada sampel tomat matang, tomat mentah dan tomat lewat matang, yang
memiliki kadar vitamin C paling tinggi adalah tomat mentah, diikuti dengan
tomat matang dan yang paling sedikit kadar vitamin C-nya adalah tomat lewat
matang. Kadar vitamin C pada buah mentah lebih tinggi dari buah yang sudah
matang. Winarno (2008) menyatakan bahwa pada buah yang masih mentah telah
banyak terkandung vitamin C-nya. Hal ini disebabkan karena kadar vitamin C pada
buah yang sudah masak akan berubah menjadi glukosa. Selama proses pematangan,
kandungan gula didalam tomat terus meningkat. Muchtadi dan Sugiono (1992)
menambahkan bahwa, pematangan pada buah akan menyebabkan meningkatnya kandungan
gula serta menurunnya kadar asam organik dan senyawa fenolik didalam buah.
Heyles dan Lugasi (2006) juga mengatakan bahwa total asam buah tomat paling
tinggi dimilki pada tingkat kematangan awal dan tidak ada perubahan nilai total
asam yang berarti pada tingkat kematangan lebih lanjut. Hal ini sejalan dengan
Bart et. al, (2006) yang menyebutkan bahwa total asam buah akan meningkat pada
tingkat kematangan awal dan akan menurun lagi pada buah yang mendekati busuk.
Asam askorbat atau vitamin C
merupakan senyawa organik derivat heksosa yang mempunyai sifat fisik dan kimia
yaitu tidak berbau, berwujud padat dan berwarna putih. Asam askorbat ini dengan
logam membentuk garam, peka terhadap panas, tidak larut dalam lemak serta
sangat mudah teroksidasi dalam keadaan larutan. Sifat vitamin C adalah mudah
larut dalam air dan tidak larut dalam eter, tidak tahan terhadap pemanasan,
dalam suasana asam stabil, sedangkan dapat rusak dalam kondisi basa dan netral.
Vitamin C dapat hilang karena hal-hal seperti pemanasan yang menyebabkan
rusaknya struktur, pencucian sayuran setelah dipotong terlebih dahulu dan
adanya susunan alkali atau basa selama pengolahan (Robert, 1971).
KESIMPULAN
Berdasarkan
pada hasil pengamatan, perhitungan dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:
1. Vitamin
C merupakan senyawa mikronutrien yang diperlukan tubuh dalam jumlah kecil.
2. Vitamin
C (asam askorbat) merupakan senyawa organik derivat heksosa yang dapat larut
dalam air.
3. Tomat
mentah memiliki kadar vitamin C sebesar 105.6 mg/100 gr bahan, tomat matang
sebesar 91.52 mg/100 gr baha dan tomat lewat matang, sebesar 88 mg/100 gr
bahan.
4. Kadar
vitamin C pada buah mentah lebih tinggi dari buah yang sudah matang yang
diakibatkan karena oksidasi selam proses pematangan buah.
5. Fator-faktor
yang merusak vitamin C selama pengolahn adalah pemasakn, pencucian dan adanya
alkali atau basa dalm pengolahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar