ACARA
IV
SIFAT-SIFAT
MIKROORGANISME PERUSAK MAKANAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Mikroba
adalah makhluk yang sangat kecil dan hanya dapat dilihat dibawah
mikroskop.Salah satu jenis mikroorganisme adalah bakteri. Bakteri merupakan
organisme uniseluler yang tumbuh dengancara pembelahan biner yaitu satu sel
membelah secara simetris. Untuk dapat tumbuh dan berfungsi secara normal,
mikroorganisme membutuhkan sumber energi, sumber nitrogen, vitamin, mineral dan
faktor pertumbuhan lainnya.komponen tersebut diperoleh mikroba dari bahan
pangan, sehingga makanan menjadi rusak (Fardiaz, 1992).
Kehidupan
mikroba pada makanan dapat bersifat menguntungkan atau merugikan.Ada hasil
metabolisme spesies mikroba tertentu pada makanan dibutuhkan dan digemari oleh
manusia.Akan tetapi ada beberapa spesies yang dapat merusak makanan dengan
pembusukan atau menghasilkan toksin yang berbahaya bagi manusia.Setiap produk
yang dihasilkan oleh mikroba tergantung jumlah mikroba yang terkandung dalam
suatu bahan atau lingkungan (Munawar, 2007).
Pertumbuhan
mikroba dalam bahan pangan dapat menyebabkan perubahan yang menguntungkan
seperti perbaikan bahan dalam pangan secara gizi, daya cerna ataupun daya
simpannya.Selain itu, pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan pangan juga dapat
mengakibabtkan perubahan fisik atau kimia yang tidak di inginkan, sehingga
bahan pangan tersebut tidak layak dikonsumsi.Kejadian ini biasanya terjadi pada
pembusukan bahan pangan. Bahan pangan dapat bertindak sebagai perantara atau
subtrat untuk perubahan mikroorganisme patogenik dan organisme lain penyebab
penyakit. Oleh karena itu perlunya mengetahui sifat-sifat mikroorganisme
perusak pada makanan.
Tujuan Praktikum
Praktikum
ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui dan menguji aktivitas
mikroorganisme perusak pada berbagai bahan pangan hasil pertanian dan produk
olahannya.
TINJAUAN
PUSTAKA
Mikroorganisme
untuk pertumbuhan dan perkembangannya membutuhkan zat-zat nutrisi untuk
sintesis komponen sel dan produksi energi. Sebagai sumber untuk menghasilkan
energi ATP terutama diperoleh dari karbohidrat, lemak dan
protein.Mikroorganisme termasuk mikroorganisme penyebab kerusakan dan kebusukan
pada makanan mempunyai berbagai enzim yang dapat memecah komponen makanan
menjadi senyawa yang lebih sederhana yang mengakibatkan perubahan pada sifat
makanan seperti rasa, warna, bau dan tekstur. Aktivitas mikroorganisme yang
terdapat dalam makanan dapat diketahui secara kualitatif dengan melakukan
pengujian pada media pertumbuhan yang berbeda antara lain dengan uji
proteolitik, lipolitik, pembentukan asam, pembentukan H2S dan
lain-lain (Anonim, 2005).
Daya
simpan produk-produk daging dan unggas dapat diketahui dari kandungan
mikroorganisme pembusuk di dalamnya. Jenis kebusukan yang umum terjadi
dipengaruhi oleh jenis produk, kontaminasi selama pengolahan dan pengepakan,
cara pengepakan dan suhu serta waktu penyimpanan (Fardiaz, 1992).
Semua
mikroorganisme patogen dan sebagian besar mikroorganisme penyebab kerusakan
bahan pangan tergolong dalam kelompok mikroorganisme mesofil, yang memiliki
suhu pertumbuhan optimal 30-45˚C.apabila kondisinya optimal, waktu generasi
untuk beberapa tipe mesofil adalah 0,5 jam atau kurang (Nazaruddin dan
Widyastuti, 1999).
Mikroorganisme
adalah sebuah organisme kehidupan yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata
telanjang.Ukuran yang digunakan untuk mikroorganisme adalah mikrometer,
millimeter, nanometer.Mikroorganisme dapat ditemukan dimana-mana dan sangat
berperan dalam semua kehidupan dimuka bumi.Kaitannya dengan makanan, mereka
dapat menyebabkan atau mencegah pembusukan dan juga sebagai perusak. Mikroba
dapat tumbuh dan berkembang dalam berbagai jenis makanan yang mengandung
bahan-bahan organik maupun anorganik (Supardi dkk,1999).
Pengujian
terhadap mikroorganisme perusak yang dapat merusak bahan pangan perlu dilakukan
sebagai parameter dalam penyimpanan dan pengawetan bahan pangan tersebut.
Dengan mengetahui jenis mikroorganisme yang mungkin tumbuh dalam suatu bahan
pangan, maka kita dapat melakukan berbagai pencegahan dengan memberikan
perlakuan terhadap bahan pangan sehingga bakteri perusak tidak dapat tumbuh dan
merusak bahan pangan tersebut (Basuki dkk,1991).
PELAKSANAAN
PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini di laksanakan pada hari
Senin, 4 Mei 2015 di laboratorium Mikrobiologi Pangan Fakultas Teknologi Pangan
dan Agroindustri Universitas Mataram.
Alat dan Bahan Praktikum
a. Alat-alat
praktikum
Adapun
yang di gunakan pada praktikum ini adalah cawan petri, tabung reaksi, rak
tabung reaksi, jarum ose, vortex,
tisu, blue tip, timbangan analitik, kertas label, korek api, bunsen, botol UC,
cawan petri, gelas kimia, plastik dan karet gelang.
b. Bahan-bahan
praktikum
Adapun
bahan-bahan yang di gunakan pada praktikum ini adalah cairan tahu, alkohol, Escherenchia coli, Stapilococcusaureus, Pseudomonas
sp, Basillus cereus, medium Skim Milk
Agar (SMA), dan medium Plate Count
Agar (PCA).
Prosedur Kerja
![]() |
|||||
![]() |
|||||
![]() |
![]() |
||||
![]() |
||||
![]() |
HASIL
PENGAMATAN
Tabel 4.1 Hasil
Pengamatan Sifat-Sifat Mikroorganisme Perusak Makanan pada Medium Skim Milk Agar (SMA)
Kelompok
|
Nama bakteri
|
Gambar
|
Keterangan
|
|
U1
|
U2
|
|||
9
|
Bacillus
Cereus
|
![]() |
![]() |
1. Zona
bening,
- warna bening
putih.
2. Zona
bening,
- warna bening
- bagian tepi
warna kuning keruh
- bersifat
proteolitik
|
10
|
Staphylococcus
Aureus
|
![]() |
![]() |
1. Zona
bening,
- warna bening
putih.
2. Zona
bening,
- warna putih
keruh
-bersifat
proteolitik
|
11
|
Pseudomonas sp
|
![]() |
![]() |
1. Zona
bening,
- warna bening
- pinggiran
warna kekuningan.
2. Zona bening
- pinggiran
berwarna kuning keruh.
-sifat
proteolitik.
|
12
|
Escherichia
coli
|
![]() |
![]() |
1. Zona
bening,
- warna
bening.
2. Zona
bening,
- pinggiran
berwarna kekuningan.
-bersifat
proteolitik.
|
Tabel
4.2 Hasil Pengamatan Sifat-Sifat Mikroorganisme Perusak Makanan pada Medium Plate Count Agar (PCA)
Kelompok
|
Nama
bakteri
|
Gambar
|
Keterangan
|
|
U1
|
U2
|
|||
9
|
Bacillus
Cereus
|
![]() |
![]() |
-
tidak terdapat zona bening, tidak terdapat warna merah.
-tidak
bersifat proteolitik.
|
10
|
Staphylococcus
Aureus
|
![]() |
![]() |
1.
Zona bening,
-
warna bening putih.
2.
Zona bening,
-
warna putih keruh
-bersifat
proteolitik
|
11
|
Pseudomonas sp
|
![]() |
![]() |
1.
Berwarna kuning keruh.
2.
Berwarna kuning
-sifat
proteolitik.
|
12
|
Escherichia
coli
|
![]() |
![]() |
1.
Zona bening,
- bagian bawah terlihat wana merah.
2.
Zona bening,
-
.warna kekuningan
-bersifat
proteolitik.
|
PEMBAHASAN
Mikroorganisme
untuk pertumbuhan dan perkembangannya membutuhkan zat-zat nutrisi untuk
sintesis komponen sel dan produksi energi. Sebagai sumber untuk menghasilkan
energi ATP terutama diperoleh dari karbohidrat, lemak dan
protein.Mikroorganisme termasuk mikroorganisme penyebab kerusakan dan kebusukan
pada makanan mempunyai berbagai enzim yang dapat memecah komponen makanan
menjadi senyawa yang lebih sederhana yang mengakibatkan perubahan pada sifat
makanan seperti rasa, warna, bau dan tekstur. Aktivitas mikroorganisme yang
terdapat dalam makanan dapat diketahui secara kualitatif dengan melakukan
pengujian pada media pertumbuhan yang berbeda antara lain dengan uji
proteolitik, lipolitik, pembentukan asam, pembentukan H2S dan
lain-lain (Anonim, 2005).
Pangan dapat menjadi racun karena
telah terkontaminasi oleh bakteri patogen yang kemudian dapat tumbuh dan
berkembang biak selama penyimpanan, sehingga mampu memproduksi toksin yang
dapat membahayakan manusia.Selain itu ada jga makanan yang secara alami sudah
bersifat racun seperi beberapa jenis jamur atau tumbuhan dan minuman. Umumnya
bakteri yang terkait dengan keracunan makanan diantaranya adalah Salmonella, Shigella, Complobacter, Listeria, Monocitogenes yersinia, Anterocolityca,
Staphylococcus aureus, Clostridium batulinum, Bacillus cereus, Vibria, Chociae, Vibro parahaemolyticus, E.coliEnterobacteri sakazaki.
Bakteri proteolitik adalah bakteri
yang tumbuh pada makanan yang mengandung protein dan memproduksi enzim protease
ekstraseluler sesuai dengan yang diungkapkan oleh Durham (1987), bakteri
proteolitik adalah bakteri yang memproduksi enzim protease ekstraseluler, yaitu
enzim pemecah protein yang diproduksi didalam sel kemudian dilepaskan keluar
sel. Proteolitik selalu tumbuh pada pangan yang mengandung protein karena
proteolitik merupakan penyebab berbagai jenis kerusakan bahan pangan dengan
kemampuannya memproduksi enzim mamapu memecah komponen lemak maupun protei dari
bahan pangan sehingga menimbulkan bau busuk dan berlendir.
Hasil pengamatan menunjukan pada
semua kultur bakteri yakni Bacillus
cereus, Staphylococcus aureus, Pseudomonas sp, dan Escherichia coli pada
medium Skim Milk Agar (SMA) mempunyai
zona bening. Zona bening ini menunjukan adanya bakteri proteolitik, semain
besar zona bening, maka semakin banyak media yang dimakan. Penggunaan media Skim Milk Agar (SMA) ini, sesuai dengan
ungkapan Fardiaz (1992) yang menyatakan susu skim merupakan susu yang
mengandung protein tinggi 3,7% dan lemak 0,1%. Susu skim mengandung kasein
sebagai protein terlarut, sehingga pada koloni dikelilingi area bening, area
bening menunjukan mikroba tersebut mempunyai aktivitas proteolitik. Pada medium
Plate Count Agar (PCA) dari semua
kultur bakteri, hanya kelompok Bacillus
cereus yang tidak terdapat zona bening atau hal tersebut menandakan Bacillus cereus tidak mempunyai
aktivitas proteolitik. Hal ini dapat disebabkan karena medium Plate Count Agar (PCA) digunakan untuk
mengetahui aktivitas lemak, sedangkan media yang diuji adalah cairan tahu yang
mengandung banyak protein serta menagndung sedikit lemak.
Bakteri proteolitik merusak suatu
bahan pangan dengan menggunakan enzim yang dihasilkan yaitu enzim protease yang
berguna memecah protein pada cairan tahu menjadi senyawa yang lebih sederhana
sehingga nantinya akan menimbulkan bau tidak sedap dan berlendir. Hal ini
sesuai dengan sumber pustaka yang mengatakan dekomposisi protein oleh
mikroorganisme lebih kompleks daripada pemecahan karbohidrat dan produk
akhirnya juga lebih bervariasi.Struktur protein yang lebih kompleks diuraikan
oleh mikroorganisme dengan suatu sistem enzim yang kompleks.Protein dipecah
menjadi senyawa-senyawa sederhana, senyawa intermediet dan produk hasil
pemecahan asam amino yang sangat bervariasi.
Komposisi suatu bahan sangat
menentukan jenis mikroorganisme yang dapat tumbuh dengan baik pada bahan
tersebut.Mikroorganisme penyebab kerusakan pada bahan pangan berkadar air
tinggi pada pH netral terutama berasal dari golongan bakteri. Bakteri pembusuk
yang menyebabkan kerusakan bahan pangan antara lainE.coli yang merupakan bakteri gran negative yang bersifat aerob
fakultatif. Suhu optimum E.coli untuk
pertumbuhannya adalah 37oC, tetapi juga dapat tumbuh pada kisaran
suhu yang lebar yaitu antara 15oC-45oC. Berbanding
terbalik denga E.coli, Staphylococcus aureus termasuk bakteri gram positif yang mempunyai
suhu optimum 35-40oC untuk pertumbuhannya.Staphylococcus aureus tidak membentuk spora sehingga pertumbuhannya
dapat segera dihambat dengan perlakuan panas.Bacillus cereus merupakan bakteri gram positif yang bersifat patogen.Bakteri
ini berbentuk batang, dapat membentuk spora dan bersifat aerobik fakultatif.Baillus cereus mampu tumbuh pada kisaran
suhu 15-55oC (optimum pada suhu 30-40oC).Bakteri yang
terakhir digunakan adalah Pseudomonas sp
yang merupakan bakteri berbentuk batang, termasuk bakteri gram negatif,
mempunyai flagel, dan tidak berkapsul.Suhu pertumbuhan optimumnya adalah 35oC
tetapi juga dapat tumbuh pada suhu 42oC (Padaga, 2007).
Pembiakan mikroba dalam laboratorium
memerlukan medium yang berisi zat hara serta lingkungan pertumbuhan yang sesuai
dengan mikroorganisme salah satunya adalah medium Plate Count Agar (PCA) yang terdiri dari tripton, dekstrose dan
agar.Medium PCA digunakan untuk perhitungan jumlah mikroba. Medium PCA yang
ditambahkan 1% lemak pada setiap kultur bakteri tidak membentuk zona bening
yang menandakan bahwa pada medium tersebut tidak dapat tumbuh bakteri yang
dapat menghidrolisis lemak atau hasilnya negatif. Halini berarti koloni
tersebut tidak dapat memecah trigliserida dan asam lemak. Medium PCA
direkomendasikan untuk mengisolasi organisme dalam susu dan produk diary lainnya. Komposisi medium PCA
yaitu tripton yang menyediakan substansi asam amino dan nitrogen kompleks
lainnya, sedangkan Yeast ekstrak
menyuplai vitamin B kompleks.Organisme yang tumbuh yaitu E.coli, B.subtilis, B.lactis, S.aureus, Listeria monocytogenes,
S.agalatus, dan L.achidophilus.(Waluyo,2004).
Faktor yang dapat mempengaruhi
kemampuan koloni bakteri dalam menghidrolisis protein adalah kemampuan koloni
bakteri itu sendiri dalam memproduksi enzim yang dapat menghidrolisis suatu
bahan yang terdapat dalam medium. (Munawar,2007). Koloni bakteri proteolitik
dapat menghasilkan enzim protease yang mampu menghidrolisis protein menjadi
dipeptida atau bahkan menjadi asam-asam amino penyusunnya.Terbentuknya zona
bening pada medium Skim Milk Agar (SMA)
disebabkan oleh aktivitas bakteri proteolitik yang menghidrolisis protein.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan
pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Bakteri proteolitik
adalah bakteri yang tumbuh pada makanan yang mengandung protein dan dapat
memproduksi enzim protease.
2.
Bakteri perusak makanan/bahan
pangan antara lain E.coli, Bacillus
cereus, Staphylococcus aureus, Pseudomonas sp dan lain sebagainya.
3.
Pengujian sifat
mikroorganisme perusak bahan pangan (proteolitik) adalah medium Skim Milk Agar (SMA).
4.
Pengujian dengan medium
Skim Milk Agar (SMA) pada semua
kultur bakteri yang di uji menunjukan adanya aktivitas proteolitik, sedangkan
pada medium Plate Count Agar (PCA)
hanya kultur bakteri Bacillus cereus yang
tidak mempunyai aktivitas proteolitik.
5.
Faktor yang
mempengaruhi bakteri menghidrolisis protein adalah kemampuan bakteri itu
sendiri menaghasilkan enzim yang dapat menghidrolisis suatu bahan pada medium.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar