ACARA
II
PERUBAHAN MUTU MINYAK SELAMA PENGOLAHAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Lipida merupakan senyawa organik yang tidak larut dalam
air, namun larut dalam pelarut organik seperti ester, benzene dan kloroform.
Lemak atau minyak secara kimiawi adalah triligserida yang merupakan bagian
terbesar dari kelompok lipida. Dalam pembentukannya, trigliserida merupakan
hasil kondensasi satu molekul gliserol dari tiga molekul asam lemak yang
membentuk satu molekul trigliserida dan tiga molekul air.
Lemak adalah campuran trigliserida yang berbentuk padat
pada suhu kamar, sedangkan minyak adalah campuran trigliserida yang berbentuk
cair pada suhu kamar. Hal ini disebabkan lemak tersusun atas asam lemak jenuh
yang tinggi dimana tidak mengandung ikatan rangkap sehingga titik leburnya
rendah. Minyak berfungsi sebagai medium penghantar panas, penambah rasa gurih,
penambah nilai gizi dan kalori dalam bahan pangan.
Kerusakan
minyak selama penggorengan akan mempengaruhi mutu dan nilai gizi bahan yang
digoreng pada suhu tinggi. Hal ini menyebabkan kerusakan atau perubahan
meliputi perubahan fisik dan kimia. Perubahan kimia meliputi autooksidasi,
polimerasi, termal dan oksidasi. Sedangkan perubahan fisik meliputi peningkatan
viskositas, intensitas warna, busa, penurunan titik asap. Oleh karena itu,
perlu dilakukan pengujian untuk dapat mengetahui perubahan mutu minyak selama
pengolahan.
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari
pengaruh pengolahan berupa pemanasan terhadap perubahan mutu minyak goreng.
.
TINJAUAN PUSTAKA
Lemak merupakan senyawa organik yang tidak larut dalam
air, tetapi larut dalam zat pelarut organic non polar, seperti aseton, alkohol,
ester, benzene, kloroform dan sebagainya. Lemak tersusun atas rantai
hidrokarbon panjang berantai lurus, bercabang atau membentuk struktur silis.
Lemak atau minyak secara kimiawi adalah trigliserida. Dalam pembentukannya
trigliserida merupakan hasil kondensasi satu molekul trigliserida dan tiga
molekul air ( Septiadji, 2007 ).
Ketengikan oleh oksidasi
terjadi karena proses oksidasi oleh oksigen terhadap asam lemak tidak jenuh
dalam minyak. Pada suhu kamar sampai 100o
C, setiap satu ikatan tidak jenuh dapat mengabsopsi dua atom oksigen
sehingga terbentuk persenyawaan peroksida yang bersifat labil. Pembentukan
peroksida ini dipercepat oleh proses cahaya, suasana asam, kelembapan udara,
dan katalis. Ketengikan oleh proses hidrolisis disebabkan oleh hasil hidrolisis
minyak yang mengandung asalm lemak jenuh berantai pendek sedangkan ketengikan
enzimatis disebabkan oleh aktivitas organisme yang menghasilkan enzim tertentu
yang dapat menguraikan trigliserida menjadi asam lemak bebas dan gliserol (
Andarwulan, 2011 ).
Bilangan peroksida adalah indeks jumlah lemak atau minyak
yang telah mengalami oksidasi. Angka peroksida sangat penting untuk
identifikasi tingkat oksidasi minyak. Minyak yang mengandung asam-asam lemka
tidak jenuh dapat teroksidasi oleh oksigen yang menghasilkan suatu senyawa
peroksida. Cara yang sering digunakan untuk menentukan angka peroksida adalah
dengan metode titrasi iodometri. Semakin tinggi bilangan peroksida, maka
kualitas minyak semakin menurun ( Sisti nurahman, 2013 ).
Minyak goreng mempunyai sifat fisika dan kimia. Sifat
fisik terdiri dari warna, rasa dan flavor, kelarutan, titik cair dari
polymorphism, titik didih ( boiling point ), lemak lunak ( Softening point ),
slipping point, shot melting point, bobot jenis, indeks bias, titik asap, dan
titik kekeruhan ( Turbidity point ). Sedangkan sifat fkimia terdiri dari
hidrolisa, oksidasi, hidrogenasi dan esterfikasi ( Anonim, 2011 ).
Minyak yang telah rusak mempunyai angka peroksida serta
asam lemak bebas yang tinggi. Apabila dicampurkan dengan minyak baru maka dapat
meningkatkan angka peroksida dan asam lemak bebas dari minyak tersebut. Angka
peroksida yang meningkat dapat menurunkan mutu minyak goreng sehingga kualitas
makanan jajanan yang digoreng menggunakan minyak tersebut memiliki rasa yang
tidak enak dan makanan tidak aman untuk dikonsumsi ( Winarno, 2004 ).
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Waktu Pelaksanaan
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jum’at, 17 April 2015
di Laboratorium Biokimia Pangan dan Kimia Pangan Fakultas Teknologi Pangan dan
Agroindustri Universitas Mataram.
Alat dan Bahan Praktikum
a.
Alat-alat
pratikum
Adapun alat-alat yang digunakan dalam
praktikum ini adalah timbangan analitik, erlenmeyer, pipet tetes, gelas ukur , buret , karet, sendok dan plastik.
b.
Bahan-bahan
praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan
dalam praktikum ini adalah minyak goreng curah baru, 1x pakai, 3x pakai, minyak
goreng komersial baru, 1x pakai, 3x pakai, asam asetat glasia, aquades, amilum,
Na2 S2O3 , alkohol, dan NaOH 0,1 N.
Prosedur Kerja
a.
Bilangan
Peroksida
![]() |
|||
![]() |
b.
|
![]() |
HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
Hasil Pengamatan
Tabel
1.1. Hasil Pengamatan Perubahan Mutu Minyak Selam Pengolahan
Parameter
|
Minyak Goreng Curah
|
Minyak Goreng Komersial
|
||||
|
Belum dipakai
|
1 x pakai
|
3 x pakai
|
Belum dipakai
|
1 x pakai
|
3 x pakai
|
Bau
|
Tengik
|
Agak tengik
|
Sangat tengik
|
Tengik
|
Agak tengik
|
Sangat tengik
|
Warna
|
Kuning Keemasan
|
Kuning Kecoklatan
|
Coklat Keemasan
|
Kuning Cerah
|
Kuning
|
Coklat Keemasan
|
Bilangan Peroksida
|
5,5
|
16,5
|
7,5
|
3,5
|
6,5
|
4
|
Bilangan Asam
|
0,24
|
0,24
|
0,16
|
0,1
|
0,24
|
0,24
|
Hasil Perhitungan
1.
Kelompok
7 ( Minyak Curah Baru )
Bilangan
Peroksida = 

= 

=


= 5,5 mek /
kg
Bilangan
Asam = 

=


= 

= 0,24 ml / gram
2.
Kelompok
8 ( minyak Komersil Baru )
Bilangan
Peroksida =

= ( 0,45 X 0,1 ) . 0,05 X 1000
5

5
= 3,5 mil / gram
Bilangan
Asam =


20

20
= 0,1 ml / Gram
3.
Kelompok
9 ( Minyak Curah 1 X pakai )
Bilangan
Peroksida = 


5

5

5
= 6,5 ml / gram
Bilangan
Asam = 

= 1,2 X 0,1 X 40
20

20
= 0,24 ml /
gram
4.
Kelompok 10 ( Minyak Curah 3 X pakai )
Bilangan
Peroksida

= (
0,85 – 0,1 ) X 0,05 X 1000
5

5
= 7,5 ml / gram
Bilangan
Asam = 


20

20
= 0,16 ml / gram
5.
Kelompok 11 ( Minyak Komersial 1 X pakai )
Bilangan
Peroksida =

= (
0,75 – 0,1 ) X 0,05 X 1000
5

5
= 6,5 ml / gram
Bilangan
Asam = 


20

20
= 0,24 ml / gram
6.
Kelompok 12 ( Minyak Komersial 3 X pakai )
Bilangan
Peroksida =

= ( 0,5 – 0,1 ) X 0,05 X 1000
5

5
= 4 ml / gram
Bilangan
Asam = 


20

20
=
0,24 ml / gram
PEMBAHASAN
Minyak goreng berfungsi sebagai medium penghantar panas,
penambah rasa, gurih dan penambah nilai kalori ( Winarno, 2004 ) Menurut SNI 01
– 3741 – 2002 ( BSN, 2002 ) minyak goreng didefinisikan sebagai minyak yang
diperoleh dengan cara menurunkan minyak makan nabati. Minyak nabati merupakan
minyak yang diperoleh dari seliria, palma- palmaan dan biji-bijian ( Nugraha,
2004 ).
Penentuan mutu minyak secara kimiawi dapat dilakukan
dengan cara menentukan bilangan peroksida dan bilangan asamnya. Angka peroksida
menunjukan tingkat kerusakan minyak. Kulaitas minyak ditentukan oleh besar atau
kecilnya bilangan peroksida. Semakin jenuh minyak tersebut maka semakin rendah
sehingga proses oksidasi ini harus dihentikan agar kualitas minyak tetap baik.
Pengujian kali ini adalah melihat perubahan mutu minyak
selama pengolahan dengan menggunakan minyak goreng curah dan minyak goreng
komersial yang sama-sama berfungsi sebagai penghantar panas, penambah rasa
gurih dan nilai kalori pada bahan pangan.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan melihat angka
peroksida dari tabel 1.1 menunjukan bahwa minyak goreng curah yang telah
dipakai satu kali memiliki angka peroksida tertinggia yaitu 16,5 dan bilangan
peroksida terendah dari minyak goreng curah adalah yang belum dipakai yaitu
5,5. Dimana sampel yang digunakan adalah sebanyak 5 gram. Sedangkan untuk
minyak goreng komersial angka peroksida tertinggi terdapat pada minyak goreng 1
x pakai yaitu sebanyak 6,5 dan angka peroksida terendah adalah pada minyak
goreng komersial yang belum dipakai. Bilangan peroksida yang tinggi menunjukan
adanya oksidasi. Hal ini sesuai dengan pendapat ( Almunady 2010 ) yang mengatakan
bilangan peroksida yang tinggi mengindikasikan lemak atau minyak yang sudah
mengalami oksidasi, namun pada angka peroksida yang rendah bukan selalu berarti
menunjukan kondisi oksidasi yang masih dini. Angka perojsida rendah disebabkan
oleh laju pembentukan peroksida baru lebih kecil bila dibandingkan dengan laju
degradasinya dengan senyawa lain. Dari hasil pengamatan dibandingkan dengan
angka peroksida minyak goreng komersial angka peroksida dari minyak goreng
curah lebih tinggi.
Berdasarkan hasil pengamatan bilangan peroksida dan
bilangan asam dari masing-masing sampel biloa dibandingkan dengan SNI sangatlah
berbeda nyata. Menurut SNI 01-3741-2002 tentang standar mutu minyak goreng
bahwa dalam minyak maksimal angka peroksida adalah 1 mek / kg sedangkan keadaan
bauh warna dan rasa harus normal dan untuk bilangan asam maksimal 0,6. Hal ini
berbanding terbalik dengna hasil pengamatan dan perhitungan yang didapat baik
dari segi banyaknya bilangan peroksida maupun keadaan bau, warna, dan rasa.
Bilangan peroksida dengan sampel minyak goreng curah tertinggi pada minyak 1x
pakai yaitu 16,5 sedangkan untuk minyak goereng komersial angka peroksida
tertinggi juga pada minyak goreng 1x pakai yaitu 6,5. Hal yang sama juga
terdapat pada bilangan asam dimana bilangan asam tertinggi terdpat pada minyak
curah baru, 1x pakai, 3x pakai. Sedangkan pada minyak goreng komersial bilangan
asam terdapat pada minyak 1x pakai dan 3x pakai yairu sebesar 0,24. Hal ini
dikarenakan penanganan pada saat pengolahan yang tidak tepat, minyak sudah
terkontaminasi udara, dll.
Minyak goreng curah dibandingkan dengan minyak goreng
komersial dilihat dari bilangan peroksida dan bilangan asam sangat berbeda.
Bilangan peroksida minyak curah baru yaitu 5,5, 1x pakai 16,5 dan 3x pakai
7,5. Sedangkan untuk minyak goreng
komersial baru bilangan peroksidanya 3,5, 1x pakai 6,5 dan 3x pakai 4. Untuk
bilangan asam tertinggi ada pada minyak goreng curah yairu 0,24 untuk yang
baru, 0,24 1x pakai, dan 0,16 3x pakai. Sedangkan bilangan asam minyak goreng komersial
baru sebanyak 0.1, 1x pakai 2,24, dan 3x pakai 0,24. Dibandingkan minyak goreng
curah minyak goreng komersial lebih bagus karena angka asamnya lebih rendah
sehingga mutu minyak komersil lebih baik. Sedangkan kekurangan dari minyak
goreng curah adalah lebih mudah teroksidasi atau terkontaminasi oleh udara dan
air sehingga menimbulkan ketengikan dan menurunkan mutu minyak goreng.
Faktor-faktor penyebab ketengikan pada minyak ada 3 yaitu
ketengikan oleh oksidasi yang terjadi karena adanya proses oksidasi oleh
oksigen terhadap asam lemak tidak jenuh pada minyak. Kedua adalah ketengikan
oleh enzim terjadi karena adanya aktivitas organisme yang menghasilkan enzim
tertentu yang dapat menguraikan trigliserida menjadi asam lemak bebas dan
gliserol. Ketiga ketengikan oleh proses hidrolisis. Hal ini yang menyebabkan
adanya angka peroksida pada minyak sehingga menurunkan mutu minyak..
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan
pembahasan dapat diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan maka dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1.
Minyak
berfungsi sebagai penghantar panans, penambah rasa gurih, dan penanmbah nilai
gizi pada bahan pangan.
2.
Penentuan
mutu minyak dapat dilihat dengan adanya bilangan asam dan bilangan peroksida.
3.
Minyak
goreng komersial kualitas minyaknya lebih baik dibandingkan dengan minyak
goreng curah.
4.
Bilangan
peroksida dan bilangan asam minyak goreng curah dan minyak goreng komersial
tidak sesuai dengan standar SNI mutu minyak goreng.
5.
Faktor-faktor
penyebab ketengikan ada tiga yaitu ketengikan oleh oksidasi, ketengikan oleh
enzim dan ketengikan oleh proses hidrolisis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar