ACARA I
PENGENALAN ALAT DAN PENGGUNAANNYA
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Pengenalan alat merupakan langkah pertama sebelum kita
melakukan percobaan atau penelitian. Dengan mengenal alat, kita dapat
mengetahui fungsi masing-masing bagian dari alat tersebut serta cara
pengoperasian atau penggunaan alat-alat yang akan di gunakan dalam percobaan
atau penelitian yang di lakukan, dan dengan kita mengetahui fungsi dan cara
penggunaan alat-alat yang akan di gunakan dapat memperlancar jalannya suatu
percobaan atau penelitian yang maksimal.
Material Safety Data Sheet (MSDS) yaitu sifat-sifat dari
bahan kimia, antara lain mudah terbakar, mudah meledak, bersifat radioaktif,
dan bersifat korosif. Kesalahan penggunaan alat dan bahan merupakan salah satu
penyebab terjadinya hal-hal yang merugikan dan berbahaya bagi kesehatan. Banyak
hal yang terjadi akibat kesalahan dalam penggunaan peralatan maupun bahan
sehingga dapat menimbulkan kebakaran, menyebabkan gas beracun, atau masuknya
zat kimia ke dalam tubuh yang menyebabkan kematian. Sehingga kesalahan
penggunaan alat dan bahan dapat di minimalisir dengan adanya pengenalan alat
dan bahan.
Larutan adalah campuran homogen yang
terdiri dari dua zat atau lebih. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam
larutan di sebut zat terlarut (solute), sedangkan zat yang jumlahnya lebih
banyak dari pada zat lain dalam larutandi sebut pelarut atau solven. Komposisi
zat terlarut dan pelarut dalam larutan di nyatakan dalam konsentrasi larutan,
sedangkan proses pencampuran zat terlarut dan pelarut membentuk larutan di
sebut pelarutan atau solvasi. Oleh karena itu, perlu di lakukan praktikum ini
untuk mengetahui alat dan bahan yang terdapat di laboratorium serta cara
pembuatan larutan.
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari
praktikum ini adalah untuk mengetahui nama, fungsi, dan sifat-sifat serta cara
penggunaan alat dan bahan yang di gunakan agar terhindar dari kesalahan dalam
penggunaan serta cara pembuatan larutan.
TINJAUAN PUSTAKA
Suatu laboratorium harus merupakan tempat yang aman bagi
pekerja atau pengguna yaitu para praktikum, aman terhadap setiap kemungkinan
kecelakaan fatal maupun sakit ataupun gangguan kesehatan lainnya. Hanya di
dalam laboratorium yang aman, bebas, dari rasa khawatir akan kecelakaan atau
keracunan. Seseorang dapat bekerja dengan aman, produktif dan efisien.
Kecelakaan yang terjadi di suatu laboratorium merupakan tanggung jawab moral
dalam keselamatan kerja (Khasani, 2009).
Larutan merupakan campuran homogen antara dua zat atau
lebih yang berbeda jenis. Ada dua komponen zat dalam pembuatan larutan, yakni
zat terlarut dan zat pelarut. Fase larutan dapat berupa fase gas, cair, atau
padat tergantung pada dua sifat komponen larutan tersebut. Apabila fase
pembuatan larutan atau zat-zat pembentuknya sama. Zat yang berbeda dalm jumlah
umumnya di sebut pelarut, sedangkan zat lainnya di sebut zat terlarut
(Mulyono,2006).
Konsentrasin larutan menyatakan secara kuantitatif
komposisi zat terlarut dan pelarut di dalam larutan. Konsentrasi umumnya di
nyatakan dalam perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumla total zat dalam
larutan, atau dalam perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah pelarut.
Contoh beberapa satuan konsentrasi adalah molar, molal, dan bagian perjuta
(part per million) (Raymon 2005).
Pembuatan larutan adalah suatu cara mempelajari cara
pembuatan larutan dari bahan cair atau padat dengan konsentrasi tertentu. Untuk
menyatakan kepekaan atau konsentrasi suatu larutan dapat di lakukan berbagai
cara tergantung pada tujuan penggunaannya. Adapun satuan yang di gunakan untuk
menentukan kepekaan larutan adalah molaritas. Molaritas, persen berat, persen
volume dan sebagainya (Faizal, 2013).
Berdasarkan zat wujud terlarut dan zat pelarut, larutan
dapat di bagi dalam tujuh macam. Dari tiga jenis wujud zat seharusnya terbentuk
sembilan macam zat larutan, tetapi zat berwujud padat dan cair tidak membentuk
dalam larutan dalam pelarut berwujud gas. Partikel yang berwujud padat dan cair
dalam zat lain yang berwujud gas akan membentuk larutan heterogen. Selain itu
masih banyak macam penggolongan lainnya (Syukri, 2010).
Salah satu faktor yang mempengaruhi kelarutan yaitu suhu.
Semakin tinggi suhu reaksi, hasil yang di hasilkan juga semakin bertambah untuk
waktu reaksi yang sama, sebab gerakan molekul-molekul pereaksi semakin besar.
Dengan demikian, kemungkinan terjadinya tumbukan antara molekul-molekul
pereaksi yang berlanjut dengan reaksi kimia juga besar (Harjanti, 2008).
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Waktu
dan Tempat Pelaksanaan Praktikum
Praktikum
ini dilaksanakan pada Hari
Jum’at, 10 April 2015 di
Laboratorium Kimia dan Biokimia Pangan Fakultas Teknologi Pangan dan
Agroindustri Universitas Mataram.
Alat-Alat Praktikum
a.
Alat-alat
Praktikum
Adapun alat-alat yang di gunakan pada praktikum ini
adalah timbangan analitik, tabung erlenmeyer, penjepit tabung, pipet tetes,
tabung reaksi, lampu bunsen, gelas beker, corong pemisah, water bath, oven, dan rak tabung reaksi.
b.
Bahan-bahan
Praktikum
Adapun bahan-bahan yang di
gunakan pada praktikum ini adalah larutan HCl, larutan NaOH 0,1 M.
PEMBAHASAN
Larutan adalah campuran homogen antara dua atau lebih zat
berbeda jenis. Ada dua komponen utama pembentukan larutan, yaitu zat terlarut (solute), dan pelarut (solven). Zat terlarut merupakan
komponen yang jumlahnya sedikit, sedangkan pelarut adalah komponen yang
terdapat dalam jumah yang banyak. Suatu larutan dengan jumlah maksimum zat
terlarut pada temperatur tertentu di sebut larutan jenuh. Sebelum mencapai
titik jenuh, larutan tidak jenuh. Larutan sangat jenuh atau kelewat jenuh
yaitu, suatu larutan yang mengandung lebih banyak zat terlarut dari pada yang
di perlukan untuk larutan jenuh. Atau dengan kata lain, larutan yang tidak
dapat lagi melarutkan zat terlarut sehingga terjadi endapan. Larutan sangat
jenuh terjadi apabila hasil kali konsentrasi ion ˃ Ksp berarti larutan lewat jenuh (Marisna,
2013).
Sifat dari larutan selain kejenuhan adalah daya hantar
yang terdiri dari larutan elektrolit dan larutan non elektrolit. Larutan
elektrolit yaitu larutan yang dapat menghantar arus listrik, contohnya pada nyala
lampu pada alat uji atau timbulnya gelembung gas dalam larutan. Larutan non
elektrolit yaitu larutan yang tidak dapat menghantar arus listrik, contohnya
tidak ada gelembung dalam larutan atau lampu tidak menyala pada alat uji. Sifat
larutan yang terakhir adalah sifat kualitaf yang terdiri dari larutan pekat dan
larutan encer. Larutan pekat yaitu larutan yang lebih banyak terlarut dari pada
pelarut. Larutan encer yaitu larutan yang lebih banyak pelarut dari pada zat
terlarut (Khopkar, 2008).
Konsentrasi larutan adalah banyaknya bagian zat terlarut
dan pelarut yang terdapat dalam larutan. Dalam ukuran kuantitatif, konsentrasi
larutan di nyatakan dalam gr/ml (sama seperti satuan untuk densitas). Namun,
dalam perhitungan stokiometri satuan gram di ganti dengan satuan mol sehingga
mol di peroleh satuan mol/L. Konsentrasi dalam mol/L atau mmol/ml di kenal
dengan istilah molaritas atau konsentrasi molar.
Berbagai cara untuk menyatakan konsentrasi larutan yang
terdiri dari: persen massa (%), % massa/massa = 1gr komponen / 100 gr bahan, %
massa/ volume = 1 gr bahan / 100 ml larutan, % volume / volume = 1 ml larutan,
bagian per 1000 = bpr, 1 mg zat per 1000 mg, 1 gr zat per 1000 gr, bagian per
juta = bpj, 1 mg zat per juta mg bahan, 1 mg zat per 1 kg bahan: bagian per
miliar, 1 mg zat per
mg bahan, dan 1 mg zat per 1 ton, bagian per
triliun. Fraksi mol merupakan perbandingan mol dari pelarut atau zat terlarut
nilai total fraksi mol zat terlarut dan pelarut haruslah sama dengan 1. Persen
mol merupakan nilai mol yang di kalikan 100 %. Molaritas adalah jumlah mol
suatu terlarut dalam larutan di bagi dengan volume larutan yang di tentukan
dalam liter.

M
=
=
= 



Keterangan : M =
Molaritas / Konsentrasi
P = massa jenis
% = persentase
Molaritas
adalah jumlah mol zat terlarut per 1000 gr pelarut.
m =
= 


Keterangan
: m = molaritas (Marisna, 2013).
Pada praktikum ini, kita akan
membahas pembuatan larutan Asam Klorida (HCl) dan Natrium Hidroksida (NaOH).
Dalam pembuatan larutan HCl, Asam Klorida yang di konsentrasikan dengan berat
molekul (BM) sebesar 36,5, memiliki kerapatan 1,19 gr/ml dan 37 % dan berat
HCl. Asam konsentrat yang di butuhkan untuk di larutkan dalam 1 liter air untuk
membuat larutan HCl 0,1 M, dengan perhitungan sebagai berikut :
gram
HCl yang di butuhkan = 1,00 liter x 0,100 mol/liter x 36,5 gr/mol = 36,5
gram
HCl per mili liter = 1,19 gr/ml
x 0,37 = 0,44

=

=
8,3 ml.
Jadi,
asam konsentrat yang di larutkan dalam 1 liter air untuk membuat larutan HCl
0,1 M sebesar 8,3 ml. Pembuatan larutan di lakukan dengan cara di pipet
sebanyak 8,3 ml HCl 37 % dengan pipet ukur, kemudian di encerkan dengan aquades
dalam labu ukur sampai tanda batas.
Pembuatan larutan NaOH 0,1 M dengan
volume 50 ml. Massa atom relatif (Mr) NaOH adalah 40 gram/mol. Perhitungannya
dapat di lakukan sebagai berikut:
M = N x BE x V
= N x
x V

= 0,1 x 40 / 1 x 0,5
= 0,2 gram
Jadi,
untuk membuat larutan NaOH 0,1 M, di timbang 0,2 gram NaOH, kemudian di
encerkan dengan aquades di dalam labu ukur 50 ml sampai tanda batas.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, maka dapat
di tarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.
Larutan
merupakan campuran homogen antar dua zat atau lebih zat berbeda jenis.
2.
Sifat
dari larutan terdiri dari daya hantar, tingkatan kejenuhan dan sifat
kualitatif.
3.
Berbagai
cara untuk menyatakan konsentrasi larutan terdiri dari persen massa % , bagian
per 1000, bagian per juta, bagian per miliar, bagian per triliun, fraksi mol,
molaritas, dan molalitas.
4.
Memerlukan
8,3 ml asam konsentrart dan 1 liter air untuk membuat larutan 0,1 M.
5.
Memerlukan
0,2 gram NaOH dan 50 ml air (aquades) untuk membuat larutan NaOH 0,1 M.
Mantaap
BalasHapusMantaap
BalasHapus