Selasa, 29 September 2015

Larutan Buffer




 
                                                                       ACARA VI
LARUTAN BUFFER
PENDAHULUAN
 Latar Belakang
Larutan penyangga atau larutan buffer  adalah larutan yang dapat mempertahankan pH pada kisarannya. Jika pada suatu larutan menyangga di tambah sedikit asam atau basa atau di encerkan maka pH larutan tidak berubah. Larutan penyangga sanngat penting dalam kehidupan, misalnya dalam analisis biokimia, bakteriologi, zat warna, fotografi,dan industri kulit. Dalam bidang biokimia, kultur jaringan dan bakteri mengalami proses yang sangat sensitif terhadap perubahan pH. Darah dalam tubuh manusia mempunyai pH berkisar 7,35 sampai7,45, dan apabila pH darah berkisar 7,8 akan menyebabkan organ tubuh manusia dapat rusak, sehingga harus dijaga kisaran Ph-nya dengan larutan Penyangga.

Tujuan Praktikum
          Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk membandingkan tampilan perubahan pH asam kuat dan asam lemah yang dititrasi dengan NaOH.










TINJAUAN PUSTAKA
Larutan penyangga atau larutan buffer adalah larutan yang dapat mempertahankan pH tertentu terhadap usaha mengubah pH seperti penambahan asam, basa, ataupun pengenceran. Dengan kata lain, pH larutan penyangga tidak akan berubah walaupun pada larutan tersebut ditambahkan sedikit asam kuat, basa kuat atau jika larutan tersebut diencerkan. Larutan buffer mengandung zat terlarut yang bersifat penyangga. Penyangga memiliki komponen asam basa mengatasi penurunan pH. Asam dan basa ini merupakan pasangan konjugasi (Mangihut, 2009).
            Larutan penyangga atau larutan buffer atau dapar merupakan suatu larutan yang dapat mempertahankan nilai pH tertentu. Adapun sifat yang paling menonjol dari larutan penyangga ini seperti pH larutan penyangga hanya berubah sedikit pada penambahan sedikit asam kuat.Disamping itu larutan penyangga merupakan larutan yang dibentuk oleh reaksi suatu asam lemah dengan basa konjugatnya ataupun oleh basa lemah dengan asam konjugatnya.Reaksi ini disebut sebagai reaksi asam-basa konjugasi. Disamping itu mempunyai sifat berbeda dengan komponen-komponen pembentuknya (Zulfiky, 2003).
          Sifat dari larutan buffer yaitu pH larutan tidak berubah jika diencerkan dan tidak berubah pula jika ditambahkan kedalamnya sedikit asam atau basa. Pada dasarnya suatu larutan penyangga yang tersusun dari asam lemah dan basa konjugasi merupakan suatu sistem kesetimbangan ion dalam air, yang melibatkan adanya kesetimbangan air dan kesetimbangan asam lemah. Di samping itu, terdapat ion basa konjugasi yang berasal dari garam atau hasil reaksi antara asam lemah tersebut dengan basa kuat. Buffer dapat di defenisikan sebagai campuran asam/basa lemah dengan garamnya. Fungsi buffer adalah untuk mempertahankan pH larutan saat ditambahkan asam/basa lemah dalam jumlah relatif sedikit. Kapasitas buffer adalah parameter kuantitatif yang menunjukkan kekuatan (resistensi) untuk mempertahankan pH. (Chang R, 2006).
Dalam berbagai aktivitas yang melibatkan reaksi-reaksi dalam larutan, seringkali diperlukan pH yang harganya tetap. Perubahan pH suuatu system seringkali memberikan dampak yang tidak diinginkan. Namun larutan penyangga dapat mempertahankan pH system terhadap gangguan yang dapat mengubah pH. Penyangga alami terdapat dalam tubuh makhluk hidup maupun di alam (Mulyasa, 2009).
Kebutuhan buffer kadang menyulitkan karena hampis setiap analisis membutuhkan kondisi pH tertentu yang relatif stabil. Karena banyaknya macam dan jenis buffer, pemilihan buffer yang akan digunakan menjadi masalha tersendiri. Dalam memilih buffer, yang harus diperhatikan adalah pH optimum serta sifat-sifat biologisnya. Banyak jenis buffer yang mempunyai dampak terhadap sistem biologis, aktivitas enzim, subtrat dan kovaktor (Riyadi, 2008).







PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat Praktikum
          Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 3 Desember 2014 di Laboratorium Kimia dan Biokimia Pangan Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram.

Alat dan Bahan Praktikum
a. Alat-alat Praktikum
          Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah gelas piala, pengaduk, pipet ukur, pipet tetes, pH stik dan alat titrasi.
b. Bahan-bahan Praktikum
          Adapun bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah HCL 0,1 M, aquades, NaOH 0,01 N, H3PO4 0,05 N, NaOH 0,05 N.

Prosedur Kerja
a. Titrasi larutan HCl
 











 





                                           


 


















HASIL PENGAMATAN
Hasil Pengamatan

Tabel 6.1 Perubahan pH larutan HCL 0,1 ml dengan Penambahan NaOH 0,01 M
pH Larutan HCl
Volume NaOH 0,01 N yang ditambahkan (ml)
0
5
10
15
20
25
30
2
2
2
3
4
6
9

 Kurva Titrasi Hubungan Antara Perubahan pH dan volume NaOH

Tabel 6.2 Perubahan pH Larutan H3PO4 M dengan penambahan NaOH dengan penambahan NaOH 0,05 N
pH Larutan H3PO4
Volume NaOH 0,05 N yang ditambahkan (ml)
0
5
10
15
20
25
30
2
2
2
3
3
5
6




Kurva Titrasi Hubungan Antara Perubahan pH dan volume NaOH














PEMBAHASAN
          Larutan  Buffer adalah larutan yang berfungsi menahan perubahan pH yang ekstrim pada saat terjadi pertambahan jumlah ion H+ dan OH- dalam larutan. Buffer tersusun dari asam lemah dengan basa konjugasinya atau oleh basa lemah dengan asam konjugasinya. Reaksi diantara kedua komponen penyusun ini disebut dengan reaksi asam-basa konjugasi. Larutan penjangga yang bersifat asam akan mempertahankan pH pada daerah asam (pH<7) sedangkan larutan penyangga yang bersifat basa akan mempertahankan pH pada daerah basa (pH>7) (Anonim, 2013).
          Praktikum ini ada dua uji yang dilakukan yaitu uji titrasi HCl dan uji titrasi H3PO4. Dimana praktikum ini dilakukan untuk membandingkan perubahan pH pada asam kuat dan asam lemah dengan dilakukan titrasi menggunakan NaOH yang konsentrasinya 0,01 N (ml) dan 0,05 N (ml). Pada uji titrasi HCl yang dilakukan dengan mentitrasi NaOH yang memiliki konsentrasi 0,01 N. Pada uji titrasi HCL, dimana sebelum ditambahkan NaOH 0,01 N (ml) pH larutan ini adalah 2, setelah ditambahkan 5 ml pertama NaOH diperoleh Ph 2, pada 5 ml kedua didapatkan  pH= 2, pada 5ml ketiga terjadi perubahan pH sebesar 3. Kemudian 5 ml keempat bertambah menjadi pH= 4, pada 5 ml kelima pH menjadi 6 dan pada penambahan 5 ml terakhir pH naik menjadi 9. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut didapatkan kurva yang meningkat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa larutan penyangga ini bersifat asam kuat karena dapat mempertahankan pH sehingga lebih dari 7 dimana pada larutan dari 0 sampai 30 ml pH larutan tersebut meningkat.
          Pada uji kedua yaitu pengujian larutan H3PO4 menggunakan NaOH dengan konsentrasinya 0,05 N (ml). Sebelum ditambahkan NaOH pada 5 ml pertama pH larutan 2, setelah ditambahkan 5 ml kedua dan ketiga pH larutannya tetap 2, pada  penambahan 5 ml keempat dan kelima pH menjadi 3, dan pada 5 ml berikutnya pH bertambah menjadi 5 dan pada 5 ml terakhir pH-nya menjadi 6. Berdasarkan data tersebut larutan penyangga ini bersifat asam lemah karena pH-nya kurang dari 7.
          Penambahan asam (H+) akan menggeser kesetimbangan kekiri. Dimana ion H+ yang ditambahkan bereaksi dengan ion CH3COO- untuk membentuk molekul CH3COOH. Jika ditambahkan larutan basa maka ion OH- dari basa itu akan bereaksi dengan ion H+ maka dapat membentuk air. Hal ini akan menyebabkan kesetimbangan bergeser kekanan sehingga konsentrasi ion H+ dapat dipertahankan. Jadi, penambahan basa menyebabkan berkurangnya komponen asam. penambahan NaOH  akan menghancurkan ion OH- sehingga pH menjadi naik.
          Kebanyakan reaksi-reaksi biokimia dalam tubuh makhluk hidup hanya dapat berlangsung pada pH tertentu. Oleh karena itu, cairan tubuh harus merupakan larutan penyangga agar pH selalu konstan ketika metabolisme berlangsung. Karena sistem buffer akan mempertahankan pH tubuh agar tetap normal.




KESIMPULAN
       Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Larutan  Buffer adalah larutan yang berfungsi menahan perubahan pH yang ekstrim pada saat terjadi pertambahan jumlah ion H+ dan OH- dalam larutan.
2. Dua uji yang dilakukan yaitu uji titrasi HCl dan uji titrasi H3PO4.
3. Larutan penyangga HCl ini bersifat asam kuat karena dapat mempertahankan pH sehingga lebih dari 7.
4. Larutan penyangga H3SO4 ini bersifat asam lemah karena pH-nya kurang dari
5. Cairan tubuh harus merupakan larutan penyangga agar pH selalu konstan ketika metabolisme berlangsung.

5 komentar: